PELAJARAN PARADIGMA "CASHFLOW QUADRANT, R. KIYOSAKI)
Sedikit pelajaran Fiansial dari Robert Kiyosaki (best seller book writter : CASH FLOW QUADRANT, RICH DAD POOR DAD, DLL)
Sekarang, marilah kita mempelajari empat kuadran tersebut, satu per satu :
KUADRAN E : EMPLOYED
Pada umumnya seseorang berada di kuadran E karena anjuran orang tua dan didikan dari kultur pendidikan sekolah yang membentuk kita.
Mereka selalu menganjurkan kita untuk belajar dengan baik, meraih nilai-nilai yang tinggi, mendapatkan gelar, kemudian mencari pekerjaan. Mereka juga selalu mengajarkan kita untuk menghindari kesalahan dan menghukum kesalahan.
Mereka di satu sisi akan merasa bangga bila Anda mendapatkan pekerjaan yang baik, pangkat yang tinggi, dan gaji yang ok. Di sisi lain mereka berpikir dalam masa-masa yang sulit sekarang ini, gaji yang tetap merupakan payung yang aman untuk hidup. Plus mendapatkan tunjangan serta fasilitas-fasilitas yang lain.
Bekerja di sebuah perusahaan jelas merupakan hal yang baik yang akan memberikan imbalan serta kepuasan. Dengan catatan, kita bekerja dengan baik, menyelesaikan tugas-tugas kita dengan baik, berinisiatif untuk terus mengembangkan diri, beradaptasi dengan baik dengan rekan-rekan kerja kita, dan selalu berpikir untuk maju.
Secara spiritual kita mungkin merasa bahwa kita menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi masyarakat melalui bekerja di perusahaan kita. Tapi yang pasti kita akan merasa bahwa kita hidup normal, pergi pagi pulang sore, akhir bulan dapat gaji, kadang-kadang bonus, setiap tahun dapat kenaikan gaji. Well, kita punya pekerjaan yang baik.
Namun demikian ada satu hal yang perlu dikuatirkan oleh mereka yang berada di kuadran E.
Jaman berubah. Globalisasi sudah merambah! Dan, pemahaman kita sebagai karyawan tentu berbeda dengan pemahaman para pemegang saham. Pengurangan karyawan yang kita anggap tidak baik mungkin di mata mereka sangat baik. Dan faktanya sekarang banyak sekali perampingan (baca: down-sizing) di banyak perusahaan. Itu adalah gejala yang patut kita waspadai. Bagi sebagian orang (faktanya sebenarnya kebanyakan orang), mereka berperan sangat bagus dalam suatu perusahaan. Artinya, mereka menyukai rutinitas, keteraturan, resiko yang kecil, terkadang tidak perlu mengenal orang-orang baru, dan terkadang mereka efektif sekali dengan data. Tempat mereka adalah di kuadran ini.
Saran saya yang pertama, selalulah mempertajam fungsi dan efektivitas Anda bagi perusahaan. Karena di samping persaingan semakin tajam, perusahaan dewasa ini mulai melakukan otomatisasi: dengan komputer, dengan mesin, dsb.
Yang kedua, Anda harus siap bahwa tidak untuk selamanya perusahaan akan mempekerjakan Anda. Peraturan pemerintah dengan tegas melarang hal tersebut. Usia 55 atau 60 tahun Anda harus pensiun. Dan, Anda masih hidup rata-rata 20 hingga 25 tahun lagi setelah pensiun. Bagaimana Anda akan memenuhi kebutuhan Anda pada masa-masa itu? Hal itu patut Anda pikirkan mulai dari sekarang.
KUADRAN S : SELF EMPLOYED
Ada tiga alasan biasanya orang terdampar di kuadran Self Employed.
Yang pertama biasanya mereka yang selalu memacu dirinya untuk meraih yang terbaik. Designer, pemain musik, artis, arsitek, seniman. Dan itu memang dunia mereka.
Kedua, mereka yang melihat suatu profesi sebagai suatu idola dari semenjak mereka kecil. Menjadi dokter, menjadi pilot (di luar negeri kita bisa memiliki pesawat sendiri), menjadi perawat, menjadi counselor, menjadi pengacara, dan seterusnya. Impian semua anak-anak. Hanya saja, cuma sebagian dari kita yang mampu mewujudkan impian tersebut menjadi kenyataan.
Ketiga, biasanya mereka yang berangkat dari kuadran Employed. Mereka bosan diperintah terus menerus. Mereka bosan setiap kali dimarahi. Mereka bosan kreativitas mereka dipancung, diambil alih, atau tidak dihargai. Mereka berkata, Cukup. Mulai sekarang saya akan memulai bisnis saya sendiri.? Hanya seringkali tanpa pemahaman yang cukup mereka terdampar sebagai Self Employed, alih-alih sebagai pemilik bisnis yang sesungguhnya.
Ada satu kenyataan yang perlu disadari bagi mereka yang berada di kuadran ini. Impian mereka untuk mencari kebebasan dan kepuasan kerja memang terwujud. Tidak lagi ada yang mengharuskan mereka mengerjakan ini atau itu, tidak lagi ada yang mengomeli atau memarahi sebagai atasan mereka, karena toh sekarang mereka bos atas diri mereka sendiri. Tetapi kalau mereka sadar, hidup mereka tetap terikat pada tuntutan konsumen secara langsung. Contoh: seorang dokter jelas harus melayani semua pasien yang datang pada mereka setiap hari. Designer harus bekerja sesuai permintaan konsumen. Pengacara, arsitek, konselor juga sama. Pemilik toko harus menjaga tokonya setiap hari (karena dia berpikir tanpa dia tokonya tidak akan jalan).
Secara tidak mereka sadari mereka terikat juga. Tapi imbalan kepuasan mereka juga besar, bila itu yang mereka cari. Mengapa demikian? Itu karena mereka berpikir segala sesuatunya harus mereka tangani sendiri. Mereka berpikir mereka yang terbaik. Mereka selalu berpikir orang lain tidak akan mampu mengerjakannya sebaik mereka. Jadi mereka kerjakan semuanya sendiri. Dan itu merupakan kepuasan terbesar mereka.
Dua hal yang patut dipikirkan bagi mereka yang berada di kuadran Self Employed.
Pertama bahwa diri mereka terbatas. Kekuatan mereka terbatas. Dan, yang terpenting waktu mereka terbatas. Mereka jelas memakai aset tubuh mereka, tenaga mereka, ketrampilan mereka untuk melakukan segala sesuatunya. Tapi itu ada batasnya. Bagaimana kalau sakit? Income pasti terhenti.
Kedua, hidup perlu keseimbangan. Artinya kita punya keluarga yang harus kita rawat, dalam arti kasih, kebersamaan, keakraban. Seperti yang sering kita lihat seorang dokter jarang sekali bertemu dengan anak atau istrinya. Sampai-sampai mereka harus menjadi pasien untuk bertemu dengan ayah atau suaminya. Di samping itu, kita masih punya aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan: hobby, kesehatan, persahabatan, agama.
Tantangan perubahan paradigma bagi orang-orang di kuadran ini, yang biasanya sangat idealis, adalah bahwa sebenarnya mereka dapat melayani lebih banyak orang bila mereka dapat menduplikasikan dirinya. Contoh: guru bahasa bisa mendirikan sekolah-sekolah bahasa. Pemilik toko bisa membuka franchise.
KUADRAN B : BUSINESS OWNER
Ada tiga cara kita dapat menjadi pemilik bisnis.
Pertama warisan bisnis keluarga.
Kedua beli franchise.
Ketiga membangunnya sendiri.
Menjadi pemilik bisnis jelas merupakan suatu cara untuk menjadi bebas secara finansial, bila itu adalah impian Anda. Namun demikian tidak mudah untuk menjadi seorang business owner. Pertama, kebanyakan kita tidak lahir dari keluarga yang sanggup mewariskan bisnis kepada kita, betul? Bersyukurlah bagi mereka yang mendapat warisan. Tapi bagi mereka yang demikian tetap memiliki tantangan yang besar, seperti kata pepatah mempertahankan tidak semudah meraihnya. Tambahan, kebanyakan mereka tidak memiliki perasaan puas yang dimiliki oleh mereka yang membangun bisnisnya dengan susah payah dan berhasil.
Kedua, membeli franchise mahal sekali. Mc Donald, terakhir yang saya tahu, untuk membeli ijinnya saja perlu 7 milyar rupiah. Belum tempat, gaji karyawan, peralatan, dan sebagainya. EF sekitar setengah milyar hingga 1 milyar. Kumon masih sekitar 25 jutaan. Belum royalty yang terus harus disetorkan secara rutin. Ketiga, tidak semua orang memiliki mental dan kapasitas seorang bisnisman, dalam membangun sebuah bisnis, yaitu:
Jelas, tidak membeli franchise pun modal yang dibutuhkan tidak sedikit. Mulai dari tempat, peralatan, karyawan, ijin, dan sebagainya.
Kerja keras. Satu kata yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri.
Wawasan jauh ke depan. Ini yang seringkali tidak dimiliki oleh orang awam. Mereka pikir begitu mulai suatu bisnis pasti langsung akan berhasil. Padahal kadang-kadang break-even-point-nya bisa memakan waktu 2 sampai 7 tahun.
Dan yang keempat, berani ambil resiko. Kita semua tahu bisnis penuh resiko dan penuh persaingan. Kita sadar belum tentu bisnis yang kita bangun akan berhasil. Syukur-syukur kalau impas, kalau rugi? Resiko ditolak dan dicaci-maki konsumen. Hak bisnis kita dibajak oleh orang lain. Dan sebagainya. Harganya bisa jadi sangat MAHAL! Tapi jelas sebanding dengan reward yang akan kita terima bila berhasil, yaitu : KEBEBASAN FINANSIAL.
Kepuasannya bagi mereka yang bisa membangun bisnis dengan baik adalah mereka bisa memberi lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dan mereka bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Satu hal yang diperlukan bagi seseorang yang akan membangun bisnisnya, yaitu KEULETAN.
Sayangnya sahabat terbaik diri kita, yaitu diri kita sendiri tadi, seringkali bukan motivator yang terbaik. Mereka sering berkata: kamu tidak mampu mengerjakan itu, resikonya terlalu besar, nggak sebanding dengan usaha yang kamu keluarkan, sudah banyak yang gagal, dan seterusnya. Inilah yang saya sebut sebagai proses belajar yang harus kita lalui bila kita hendak menjadi seorang business owner. Kita belajar mengalahkan ketakutan kita. Kita harus belajar mengatasi kelemahan dan kegagalan kita. Kita harus membangun otot ketahanan mental terhadap setiap kesulitan yang muncul di perjalanan. Dan, dalam hal ini, bila kita berhasil, kita akan menjadi pemimpin-pemimpin bagi keteladanan, ketekunan, dan kesabaran, bagi banyak orang lain.
KUADRAN I : INVESTOR
Seorang investor biasanya berangkat dari kuadran Business Owner. Mereka sudah memiliki cukup uang dan cukup ketahanan mental untuk menjadi seorang investor. Dan mereka sudah melatih ketajaman visinya untuk melihat peluang dalam setiap krisis. Bukan melihat krisis dalam setiap peluang. Mereka mulai mengumpulkan (membeli) asset-asset yang nantinya menghasilkan income terus menerus buat mereka. Reward mereka selain kebebasan finansial adalah kebebasan waktu
Setelah kita memahami semua kuadran tersebut, mungkin ada satu pertanyaan yang timbul: Di kuadran manakah yang terbaik saya harus berada? Tidak ada patokan. Artinya semua tergantung dari visi dan misi Anda.
Contoh yang terbaik yang bisa saya berikan adalah seorang dokter. Dia bisa berada di ke empat kuadran sekaligus. Pagi hari dia bisa bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah sakit tertentu (atau atas ketetapan pemerintah, saya kurang tahu). Sore hari dia bisa buka praktek di rumahnya sebagai seorang Self Employed. Sementara itu ia membangun bisnisnya dengan memiliki sebuah apotek dan membentuk sebuah kelompok praktek atau klinik bagi para dokter. Sebagai investor, ia mulai membeli beberapa rumah dan ia kontrakkan. Jadi mungkin, di kuadran mana pun bukan persoalan yang paling penting. Yang paling penting adalah bahwa kita menyadari peran dan posisi kita di dalam komunitas dan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dalam prosesnya, tentu kita mengejar visi dan impian tertentu sesuai talenta kita. Dan, dalam proses tersebut kita punya tanggung jawab untuk terus belajar dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Bagi rekan-rekan tentunya pilihan Anda untuk belajar menjadi Self Employed dan kemudian menjadi Business Owner di dalam usaha ini, adalah merupakan langkah awal yang berani dan patut dihargai. Semangat Anda untuk belajar akan menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekeliling Anda.
Keberanian Anda akan memberi kekuatan bagi mereka yang kuatir akan kehilangan pekerjaan di masa-masa sulit sekarang ini. Impian Anda untuk bebas secara finansial akan menjadi cita-cita bagi mereka untuk meraih yang serupa.
Pada akhirnya kita harus mengingat kembali kata-kata Harold Kushner: ?Tujuan hidup ini bukan untuk menang. Kita hidup agar berkembang dan saling berbagi. Anda akan mendapatkan kepuasan lebih banyak dari kebahagiaan yang Anda datangkan ke dalam hidup orang lain dari pada yang akan Anda dapatkan ketika Anda mengungguli dan mengalahkan mereka.
Sekarang, marilah kita mempelajari empat kuadran tersebut, satu per satu :
KUADRAN E : EMPLOYED
Pada umumnya seseorang berada di kuadran E karena anjuran orang tua dan didikan dari kultur pendidikan sekolah yang membentuk kita.
Mereka selalu menganjurkan kita untuk belajar dengan baik, meraih nilai-nilai yang tinggi, mendapatkan gelar, kemudian mencari pekerjaan. Mereka juga selalu mengajarkan kita untuk menghindari kesalahan dan menghukum kesalahan.
Mereka di satu sisi akan merasa bangga bila Anda mendapatkan pekerjaan yang baik, pangkat yang tinggi, dan gaji yang ok. Di sisi lain mereka berpikir dalam masa-masa yang sulit sekarang ini, gaji yang tetap merupakan payung yang aman untuk hidup. Plus mendapatkan tunjangan serta fasilitas-fasilitas yang lain.
Bekerja di sebuah perusahaan jelas merupakan hal yang baik yang akan memberikan imbalan serta kepuasan. Dengan catatan, kita bekerja dengan baik, menyelesaikan tugas-tugas kita dengan baik, berinisiatif untuk terus mengembangkan diri, beradaptasi dengan baik dengan rekan-rekan kerja kita, dan selalu berpikir untuk maju.
Secara spiritual kita mungkin merasa bahwa kita menyumbangkan sesuatu yang berarti bagi masyarakat melalui bekerja di perusahaan kita. Tapi yang pasti kita akan merasa bahwa kita hidup normal, pergi pagi pulang sore, akhir bulan dapat gaji, kadang-kadang bonus, setiap tahun dapat kenaikan gaji. Well, kita punya pekerjaan yang baik.
Namun demikian ada satu hal yang perlu dikuatirkan oleh mereka yang berada di kuadran E.
Jaman berubah. Globalisasi sudah merambah! Dan, pemahaman kita sebagai karyawan tentu berbeda dengan pemahaman para pemegang saham. Pengurangan karyawan yang kita anggap tidak baik mungkin di mata mereka sangat baik. Dan faktanya sekarang banyak sekali perampingan (baca: down-sizing) di banyak perusahaan. Itu adalah gejala yang patut kita waspadai. Bagi sebagian orang (faktanya sebenarnya kebanyakan orang), mereka berperan sangat bagus dalam suatu perusahaan. Artinya, mereka menyukai rutinitas, keteraturan, resiko yang kecil, terkadang tidak perlu mengenal orang-orang baru, dan terkadang mereka efektif sekali dengan data. Tempat mereka adalah di kuadran ini.
Saran saya yang pertama, selalulah mempertajam fungsi dan efektivitas Anda bagi perusahaan. Karena di samping persaingan semakin tajam, perusahaan dewasa ini mulai melakukan otomatisasi: dengan komputer, dengan mesin, dsb.
Yang kedua, Anda harus siap bahwa tidak untuk selamanya perusahaan akan mempekerjakan Anda. Peraturan pemerintah dengan tegas melarang hal tersebut. Usia 55 atau 60 tahun Anda harus pensiun. Dan, Anda masih hidup rata-rata 20 hingga 25 tahun lagi setelah pensiun. Bagaimana Anda akan memenuhi kebutuhan Anda pada masa-masa itu? Hal itu patut Anda pikirkan mulai dari sekarang.
KUADRAN S : SELF EMPLOYED
Ada tiga alasan biasanya orang terdampar di kuadran Self Employed.
Yang pertama biasanya mereka yang selalu memacu dirinya untuk meraih yang terbaik. Designer, pemain musik, artis, arsitek, seniman. Dan itu memang dunia mereka.
Kedua, mereka yang melihat suatu profesi sebagai suatu idola dari semenjak mereka kecil. Menjadi dokter, menjadi pilot (di luar negeri kita bisa memiliki pesawat sendiri), menjadi perawat, menjadi counselor, menjadi pengacara, dan seterusnya. Impian semua anak-anak. Hanya saja, cuma sebagian dari kita yang mampu mewujudkan impian tersebut menjadi kenyataan.
Ketiga, biasanya mereka yang berangkat dari kuadran Employed. Mereka bosan diperintah terus menerus. Mereka bosan setiap kali dimarahi. Mereka bosan kreativitas mereka dipancung, diambil alih, atau tidak dihargai. Mereka berkata, Cukup. Mulai sekarang saya akan memulai bisnis saya sendiri.? Hanya seringkali tanpa pemahaman yang cukup mereka terdampar sebagai Self Employed, alih-alih sebagai pemilik bisnis yang sesungguhnya.
Ada satu kenyataan yang perlu disadari bagi mereka yang berada di kuadran ini. Impian mereka untuk mencari kebebasan dan kepuasan kerja memang terwujud. Tidak lagi ada yang mengharuskan mereka mengerjakan ini atau itu, tidak lagi ada yang mengomeli atau memarahi sebagai atasan mereka, karena toh sekarang mereka bos atas diri mereka sendiri. Tetapi kalau mereka sadar, hidup mereka tetap terikat pada tuntutan konsumen secara langsung. Contoh: seorang dokter jelas harus melayani semua pasien yang datang pada mereka setiap hari. Designer harus bekerja sesuai permintaan konsumen. Pengacara, arsitek, konselor juga sama. Pemilik toko harus menjaga tokonya setiap hari (karena dia berpikir tanpa dia tokonya tidak akan jalan).
Secara tidak mereka sadari mereka terikat juga. Tapi imbalan kepuasan mereka juga besar, bila itu yang mereka cari. Mengapa demikian? Itu karena mereka berpikir segala sesuatunya harus mereka tangani sendiri. Mereka berpikir mereka yang terbaik. Mereka selalu berpikir orang lain tidak akan mampu mengerjakannya sebaik mereka. Jadi mereka kerjakan semuanya sendiri. Dan itu merupakan kepuasan terbesar mereka.
Dua hal yang patut dipikirkan bagi mereka yang berada di kuadran Self Employed.
Pertama bahwa diri mereka terbatas. Kekuatan mereka terbatas. Dan, yang terpenting waktu mereka terbatas. Mereka jelas memakai aset tubuh mereka, tenaga mereka, ketrampilan mereka untuk melakukan segala sesuatunya. Tapi itu ada batasnya. Bagaimana kalau sakit? Income pasti terhenti.
Kedua, hidup perlu keseimbangan. Artinya kita punya keluarga yang harus kita rawat, dalam arti kasih, kebersamaan, keakraban. Seperti yang sering kita lihat seorang dokter jarang sekali bertemu dengan anak atau istrinya. Sampai-sampai mereka harus menjadi pasien untuk bertemu dengan ayah atau suaminya. Di samping itu, kita masih punya aspek-aspek lain yang perlu diperhatikan: hobby, kesehatan, persahabatan, agama.
Tantangan perubahan paradigma bagi orang-orang di kuadran ini, yang biasanya sangat idealis, adalah bahwa sebenarnya mereka dapat melayani lebih banyak orang bila mereka dapat menduplikasikan dirinya. Contoh: guru bahasa bisa mendirikan sekolah-sekolah bahasa. Pemilik toko bisa membuka franchise.
KUADRAN B : BUSINESS OWNER
Ada tiga cara kita dapat menjadi pemilik bisnis.
Pertama warisan bisnis keluarga.
Kedua beli franchise.
Ketiga membangunnya sendiri.
Menjadi pemilik bisnis jelas merupakan suatu cara untuk menjadi bebas secara finansial, bila itu adalah impian Anda. Namun demikian tidak mudah untuk menjadi seorang business owner. Pertama, kebanyakan kita tidak lahir dari keluarga yang sanggup mewariskan bisnis kepada kita, betul? Bersyukurlah bagi mereka yang mendapat warisan. Tapi bagi mereka yang demikian tetap memiliki tantangan yang besar, seperti kata pepatah mempertahankan tidak semudah meraihnya. Tambahan, kebanyakan mereka tidak memiliki perasaan puas yang dimiliki oleh mereka yang membangun bisnisnya dengan susah payah dan berhasil.
Kedua, membeli franchise mahal sekali. Mc Donald, terakhir yang saya tahu, untuk membeli ijinnya saja perlu 7 milyar rupiah. Belum tempat, gaji karyawan, peralatan, dan sebagainya. EF sekitar setengah milyar hingga 1 milyar. Kumon masih sekitar 25 jutaan. Belum royalty yang terus harus disetorkan secara rutin. Ketiga, tidak semua orang memiliki mental dan kapasitas seorang bisnisman, dalam membangun sebuah bisnis, yaitu:
- Modal.
- Kerja keras.
- Wawasan jauh ke depan.
- Berani ambil resiko.
Jelas, tidak membeli franchise pun modal yang dibutuhkan tidak sedikit. Mulai dari tempat, peralatan, karyawan, ijin, dan sebagainya.
Kerja keras. Satu kata yang perlu kita tanyakan pada diri sendiri.
Wawasan jauh ke depan. Ini yang seringkali tidak dimiliki oleh orang awam. Mereka pikir begitu mulai suatu bisnis pasti langsung akan berhasil. Padahal kadang-kadang break-even-point-nya bisa memakan waktu 2 sampai 7 tahun.
Dan yang keempat, berani ambil resiko. Kita semua tahu bisnis penuh resiko dan penuh persaingan. Kita sadar belum tentu bisnis yang kita bangun akan berhasil. Syukur-syukur kalau impas, kalau rugi? Resiko ditolak dan dicaci-maki konsumen. Hak bisnis kita dibajak oleh orang lain. Dan sebagainya. Harganya bisa jadi sangat MAHAL! Tapi jelas sebanding dengan reward yang akan kita terima bila berhasil, yaitu : KEBEBASAN FINANSIAL.
Kepuasannya bagi mereka yang bisa membangun bisnis dengan baik adalah mereka bisa memberi lapangan pekerjaan bagi banyak orang, dan mereka bisa memenuhi kebutuhan masyarakat. Satu hal yang diperlukan bagi seseorang yang akan membangun bisnisnya, yaitu KEULETAN.
Sayangnya sahabat terbaik diri kita, yaitu diri kita sendiri tadi, seringkali bukan motivator yang terbaik. Mereka sering berkata: kamu tidak mampu mengerjakan itu, resikonya terlalu besar, nggak sebanding dengan usaha yang kamu keluarkan, sudah banyak yang gagal, dan seterusnya. Inilah yang saya sebut sebagai proses belajar yang harus kita lalui bila kita hendak menjadi seorang business owner. Kita belajar mengalahkan ketakutan kita. Kita harus belajar mengatasi kelemahan dan kegagalan kita. Kita harus membangun otot ketahanan mental terhadap setiap kesulitan yang muncul di perjalanan. Dan, dalam hal ini, bila kita berhasil, kita akan menjadi pemimpin-pemimpin bagi keteladanan, ketekunan, dan kesabaran, bagi banyak orang lain.
KUADRAN I : INVESTOR
Seorang investor biasanya berangkat dari kuadran Business Owner. Mereka sudah memiliki cukup uang dan cukup ketahanan mental untuk menjadi seorang investor. Dan mereka sudah melatih ketajaman visinya untuk melihat peluang dalam setiap krisis. Bukan melihat krisis dalam setiap peluang. Mereka mulai mengumpulkan (membeli) asset-asset yang nantinya menghasilkan income terus menerus buat mereka. Reward mereka selain kebebasan finansial adalah kebebasan waktu
Setelah kita memahami semua kuadran tersebut, mungkin ada satu pertanyaan yang timbul: Di kuadran manakah yang terbaik saya harus berada? Tidak ada patokan. Artinya semua tergantung dari visi dan misi Anda.
Contoh yang terbaik yang bisa saya berikan adalah seorang dokter. Dia bisa berada di ke empat kuadran sekaligus. Pagi hari dia bisa bekerja sebagai karyawan di sebuah rumah sakit tertentu (atau atas ketetapan pemerintah, saya kurang tahu). Sore hari dia bisa buka praktek di rumahnya sebagai seorang Self Employed. Sementara itu ia membangun bisnisnya dengan memiliki sebuah apotek dan membentuk sebuah kelompok praktek atau klinik bagi para dokter. Sebagai investor, ia mulai membeli beberapa rumah dan ia kontrakkan. Jadi mungkin, di kuadran mana pun bukan persoalan yang paling penting. Yang paling penting adalah bahwa kita menyadari peran dan posisi kita di dalam komunitas dan melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan. Dalam prosesnya, tentu kita mengejar visi dan impian tertentu sesuai talenta kita. Dan, dalam proses tersebut kita punya tanggung jawab untuk terus belajar dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Bagi rekan-rekan tentunya pilihan Anda untuk belajar menjadi Self Employed dan kemudian menjadi Business Owner di dalam usaha ini, adalah merupakan langkah awal yang berani dan patut dihargai. Semangat Anda untuk belajar akan menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekeliling Anda.
Keberanian Anda akan memberi kekuatan bagi mereka yang kuatir akan kehilangan pekerjaan di masa-masa sulit sekarang ini. Impian Anda untuk bebas secara finansial akan menjadi cita-cita bagi mereka untuk meraih yang serupa.
Pada akhirnya kita harus mengingat kembali kata-kata Harold Kushner: ?Tujuan hidup ini bukan untuk menang. Kita hidup agar berkembang dan saling berbagi. Anda akan mendapatkan kepuasan lebih banyak dari kebahagiaan yang Anda datangkan ke dalam hidup orang lain dari pada yang akan Anda dapatkan ketika Anda mengungguli dan mengalahkan mereka.

<< Home